Advertisement :
Bisnis

Harga Emas Hari Ini 12 Januari 2024, Tertekan Data Inflasi AS

×

Harga Emas Hari Ini 12 Januari 2024, Tertekan Data Inflasi AS

Sebarkan artikel ini

AYOBADUNG.COM – Harga Emas Hari Ini 12 Januari 2024, Tertekan Data Inflasi AS – Harga emas global diprediksi akan berfluktuasi pada perdagangan akhir pekan hari ini, Jumat (12/1/2024), terimbas penguatan dolar setelah rilis data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan.

Harga emas di pasar spot ditutup turun tipis 0,1% menjadi US$2.024,99 per ons, pada Kamis (11/1/2024), setelah naik sebanyak 0,8% sebelum rilis data tersebut. Sementara emas berjangka AS ditutup 0,4% lebih rendah pada US$2019,20.

CPI Amerika Serikat dilaporkan tumbuh 3,4% year-on-year (YoY) pada Desember, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan forecast di Trading Central 3,1%. Namun CPI inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makanan dalam perhitungan dilaporkan 3,9% sesuai dengan forecast di Trading Central dan lebih rendah dari bulan sebelumnya 4%.

Tim Analis Monex Investindo Futures menyebut, inflasi inti menggambarkan harga produk yang lebih persisten atau sulit naik turun sehingga lebih berpengaruh ketimbang inflasi headline. Rilis tersebut, kata Monex, mempengaruhi ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Saat ini pelaku pasar melihat probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada Maret sebesar 73%, lebih tinggi ketimbang sebelum data dirilis sebesar 64% berdasarkan data dari perangkat FedWatch. “Artinya pelaku pasar masih optimistis suku bunga bakal dipangkas pada dua bulan lagi yang bisa menjadi sentimen positif bagi harga emas pada perdagangan sesi Asia hari ini,” papar Monex dalam riset.

Namun, Monex juga menyebut bahwa penguatan dolar AS masih menjadi sentimen negatif bagi harga emas. Dolar AS menguat terhadap mata uang utama lainnya, termasuk rupiah, setelah rilis data inflasi AS.

“Dolar AS yang menguat akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain,” kata Monex.

Selain itu, komentar dari sejumlah pejabat The Fed yang cenderung hawkish juga masih menjadi sentimen negatif bagi harga emas. Presiden Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan kemungkinan terlalu dini bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga pada bulan Maret nanti, adapun Ketua Fed Richmond Tom Barkin mengatakan kenaikan inflasi terlalu terfokus pada barang.

“Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa The Fed masih akan tetap waspada terhadap inflasi dan tidak akan terburu-buru untuk memangkas suku bunga,” kata Monex.

Sementara itu, Indeks dolar (.DXY) memperpanjang kenaikan setelah data menunjukkan harga konsumen AS naik lebih dari perkiraan pada bulan Desember, yang dapat menunda penurunan suku bunga AS yang sangat diantisipasi pada bulan Maret.

Perhatian akan beralih ke indeks harga produsen (PPI) AS yang akan dirilis pada hari Jumat. “Emas enggan turun dan (pasar) berharap PPI akan menunjukkan hasil yang lebih lemah besok,” kata Tai Wong, analis logam independen yang berbasis di New York.

Peluang Emas Bangkit

Meskipun dibayangi oleh sejumlah sentimen negatif, harga emas masih berpeluang untuk bangkit. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Inflasi AS yang masih tinggi. Inflasi AS yang tinggi membuat emas menjadi menarik sebagai aset lindung nilai.
  • Ketidakpastian geopolitik. Ketidakpastian geopolitik, seperti konflik Rusia-Ukraina, juga dapat mendorong permintaan emas.
  • Peningkatan permintaan emas dari industri teknologi. Emas digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan komponen elektronik, seperti telepon seluler dan komputer.

Berdasarkan analisis tersebut, harga emas diperkirakan akan berada di kisaran US$1.900-US$2.100 per ons pada perdagangan minggu depan.

Dapatkan Prediksi Skor Bola Setiap Harinya GRATIS!! Melalui Google News. Ikuti Ya !!